Jumat, 05 Juni 2015

Masyarakat Loncek Minta Camat Fasilitasi Masalah Lahan

Sungai Raya (Antara Kalbar) - Warga Dusun Gunung Loncek desa Teluk Bakung, Kalimantan Barat meminta bantuan pemerintah kecamatan Sungai Ambawang memfasilitasi permasalahan yang dihadapi dengan pengurus dusun yang disinyalir memotong uang bagi hasil sewa lahan perusahaan PT Kusuma Alam Sari

"Tujuan kami mendatangi kantor Camat Sungai Ambawang ini karena pengurus dusun Gunung Loncek menyerahkan sisa uang sewa lahan kami dari PT Kusuma Alam Sari, namun jumlahnya tidak sesuai alias ditilep," kata satu diantara warga Dusun Loncek, Paskhalis Oang di Sungai Ambawnag, Rabu.

Dia mengatakan warga yang memiliki lahan adat di dusun itu menerima uang dari pengurus Dusun hanya sebesar Rp31 juta untuk uang sewa lahan selama 30 tahun dari PT. KAS. Namun, lanjutnya, ada sekitar 12 orang pengurus dusun disana yang menerima uang lebih besar, RP91 juta masing-masing pengurus dusun.

"Ke 12 orang pengurus ini mendapatkan bagian lebih dari masyarakat, makanya kami menilai terjadi pemotongan yang sangat besar dari hak masyarakat yang dilakukan oknum pengurus dusun tersebut. Karena, uang yang diperoleh oleh masing-masing kepala keluarga hanya sebesar Rp31 juta itu merupakan hak masyarakat atas sewa lahan masyarakat sebanyak 254 kepala keluarga dengan luas lahan 2.190 hektare yang disewa selama sekitar 30 tahun," tuturnya.

Warga lainnya Sulaiman mengatakan saat dilakukan mediasi pengurus dusun siap mengembalikan uang sebesar Rp30 juta per orang kepada pihak perusahaan bukan membagikan secara merata kepada masyarakat, sehingga masyarakat menuntut pula pihak perusahaan dapat menyerahkan uang kepada kepala keluarga sebesar Rp91 juta seperti yang diterima oleh pengurus dusun.

"Jika PT KAS tidak mampu mengembalikan uang sebesar Rp91 juta per orang maka lahan akan kami klaim dan tidak boleh dikerjakan," katanya.

Menanggapi hal itu, Kepala Dusun Gunung Loncek mengatakan pihaknya tidak dapat mengembalikan uang secara keseluruhan sebesar Rp91 juta kepada masyarakat, pihaknya hanya menyanggupi untuk mengembalikan uang sebesar Rp30 juta.

"Kami meminta jangka waktu itupun kalau mereka menerima, kami pun tidak dapat menentukan berapa lama waktunya tergantung hasil mediasi dengan perusahaan, karena saat ini pihak perusahaan juga tidak hadir," katanya .

Menurutnya pemberian uang yang berbeda dari pihak perusahaan kepada pengurus dusun bukan lantaran pemotongan harga dari sewa lahan melainkan merupakan upah dari jasa yang diberikan perusahaan kepada pengurus.

"Uang ini tidak mungkin kami kembalikan ke masyarakat karena uang ini diberikan perusahaan kepada pengurus, dan nantinya juga kami kembalikan ke perusahaan," tuturnya.

Harga sewa lahan yang sebenarnya sudah disepakati oleh masyarakat dengan perusahaan sebesar Rp325 per meter dan masyarakatpun juga diberikan hak untuk menyampaikan kepada perusahaan berapa keinginan dari masyarakat.

"kami hanya mendampingi saja, hanya saja mereka tidak menerima karena ada terima kasih dari perusahaan karena selama kami yang mengurusnya sehingga pihak pengurus mendapatkan lebih," katanya.

Sumber: http://www.antarakalbar.com/berita/333756/masyarakat-loncek-minta-camat-fasilitasi-masalah-lahan

Sabtu, 27 September 2014

PT Palmdel Agroasia Lestari Makmur Tolak Tuntutan Warga

Malah Memberikan Warga Lahanlasma P Bermasalah

Pontianak-RK. Sebanyak 300 warga dari tujuh dusun dan empat desa meliputi Desa Pancaroba, Korek, Lingga dan Teluk Bakung, Sungai Ambawang, Kubu Raya  mendatangi kantor perusahaan perkebunan sawit PT Palmdel Agroasia Lestari Makmur (PALM), Jumat (26/9). Mereka menuntut perusahaan segera mengembalikan lahan plasma seluas 3000 hektar lebih yang tidak diserahkan perusahaan.

Ratusan warga yang didampingi kepala dusun dan kepala desa mendapat pengawalan ketat aparat kepolisian. Mereka tiba di PT Palmdel Agroasia Lestari Makmur tiba di kantor perusahaan perkebunan sawit sekitar pukul 10.00. Perwakilan warga menyampaikan orasi, hingga akhirnya dilakukan pertemuan dengan pihak perusahaan.
Lagi-lagi kedatangan warga terkait tuntutan pengembalian lahan plasma, sebagaimana dijanjikan perusahaan yang sudah bertahun-tahun tidak direalisasikan. Warga meminta penempatan lahan plasma harus di tanah mereka, bukan di lahan yang disediakan perusahaan dan bermasalah.
Pada pertemuan itu, PT Palmdel Agroasia Lestari Makmur berdalih telah menyediakan lahan plasma untuk warga di ujung Gunung Loncek. Perusahaan tersebut tidak dapat menerima tuntutan warga, terkait lahan plasma di tanah mereka sendiri, karena tidak sesuai dengan tata ruang yang telah dibuat perusahaan.
Warga Dusun Teluk Bakung Desa Lintang Batang, Valintinus Pianus mengatakan, kedatangan ratusan masyarakat dari tujuh dusun, empat desa ke kantor PT Palmdel, untuk meminta jawaban perusahaan atas tuntutan mereka. “Pada pertemuan sebelumnya, kami memberi waktu kepada pihak perusahaan untuk menjawab tuntutan warga,” kata Valintinus.
Valintinus menuturkan, masyarakat menuntut perusahaan untuk menempatkan lahan plasma, sesuai dengan surat perjanjian pada pasal 4, isinya penempatan lahan plasma di tanah milik warga masing-masing. “Selama ini lahan plasma tidak jelas, lahan yang diberikan kepada warga terletak di ujung Gunung Loncek dan lahan tersebut bermasalah,” kesalnya.
Jika memang lahan plasma yang diberikan perusahaan ternyata bermasalah, maka seluruh warga akan menarik kembali tanah milik mereka. Dan perusahaan dapat mengambil seluruh tanaman sawit miliknya yang disita warga.
“Tuntutan masyarakat tidak banyak, lahan plasma di tanah sendiri bukan di lokasi lahan yang bermasalah. Termasuk peluang kerja bagi warga lokal yang berpendidikan. Karena selama ini mereka dipersulit oleh pihak perusahaan untuk bekerja. Selama ini warga lokal hanya diberi peluang kerja kasar, seperti petugas pengamanan dan buruh,” tegas Valintinus.
Kepala Dusun Lintang Batang, Maurus Rita Dihales menegaskan, perusahaan harus menyerahkan lahan plasma seluas 3000 hektar kepada warga. “Jika memang sudah ditetapkan, tentu akan memberikan kepastian kepada masyarakat terhadap perkebunannya,” ungkapnya.
Lokasi lahan plasma itu harus berada di tanah warga sendiri, bukan di lahan yang bermasalah. “Perusahaan harus ingat, bahwa tanah yang diserahkan warga jelas, tidak bermasalah. Tapi mengapa perusahaan memberi lahan untuk plasma di lahan yang bermasalah,” ungkap Maurus.
Manager Umum dan Sumber Daya Manusia PT Palmdel Agroasia Lestari Makmur, Muhammad Taha mengatakan, tuntutan masyarakat meminta lahan plasma di tanah sendiri tidak dapat diterima. Perusahaan telah membuat tata ruang wilayah, menentukan mana lahan inti milik perusahaan dan lahan plasma milik warga. “Pembuatan tata ruang ini berdasarkan kebijakan manajemen,” kata Taha.
Disinggung mengenai aturan apa yang digunakan perusahaan terkait penataan tata ruang perkebunan, Taha menuturkan, tidak ada aturan yang digunakan untuk menata lahan inti dan plasma. “Penempatan lahan itu kebijakan manajemen, tidak bagus rasanya kalau lahan plasma keberadaannya spot-spot. Jadi disediakan satu hamparan lahan,” ucapnya. (sul) 
Sumber berita: http://rkonline.id/patroli/kisruh-pt-palmale-masih-berlanjut



Kamis, 28 Agustus 2014

Mantan Ketua KTM Terpilih Jadi Kadus Loncek

Mantan Ketaua Kelomok Tani Muda Palambon Pucuk Baguas (PPB), Leonardus, terpilih sebagai Kepala Dusun Gunung Loncek, Desa Teluk Bakung, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat untuk priode 2014-2019, pada Jumat (15/8/2014) kemarin.
Demikian diungkapkan oleh Ketua Panitia Pilkadus Loncek, Laurensius Edi, usai pemilihan di Gedung SDN 25 Sungai Ambawang.

"Leo mengalahkan dua rivalnya yaitu, Antonius dan Sadar yang juga mencalonkan diri pada bursa pemilihan Kepala Dusun gunung Loncek tersebut," .kata Edi.

Leonardus menggantikan Kadus Loncek yang lama, yaitu Donatus Dino yang menjabat sebagai Kadus Loncek sekitar 4 tahun.

Sebelum menjadi mencalonkan diri menjadi Kadus, Leonardus aktif membina Orang Muda Katolik (OMK), Stasi Santo Kanisius Gunung Loncek, Sungai Ambawang. Dia juga pernah menjadi Ketua KTM PPB Priode 2011-2012. Kemudian Leonarudus digantikan oleh Florensius Sarjono, di organisasi tersebut dan dia menjadi Pembina.

Kepemimpinan Leo sangat berpengaruh kepada para anak-anak muda baik yang ada di KTM PPB maupun OMK

"Kami bangga atas terpilihnya Leonardus, karena dialah dulu yang pada awalnya meletakan dasar-dasar kepemimpinan organisasi KTM PPB," ujar Sarjono.

Tentu saja para anggota KTM PPB yang lain merasa gembira dengan terpilihnya pemimpin muda seperti Leonarudus yang merupakan bagian dari mereka.  Mereka berharap Leo bisa memimping dusun Loncek kedepan dengan adil dan bijaksana. Apalagi saat ini, Dusun Loncek khususnya dan Desa Teluk Bakung Pada umumnya sedang berhadapan dengan ancaman konflik perkebunan kelapa sawit.

Leo kemudian menerima SK pengangakatannya pada tanggal 28 Agustus 2014 .

Minggu, 16 Februari 2014

Villagers learn to make documentary films with smartphones

Sumber: TJP
Two documentary film directors from the United States, Richard Pearce and Freida Mock, recently visited Loncek hamlet in Kubu Raya regency, West Kalimantan, where they got together with locals, especially teenage high-school dropouts, and taught them how to create simple documentary films with their cell phones.

In the relatively isolated hamlet, located some 75 kilometers from provincial capital Pontianak, the adolescents had previously been involved in forest conversion activities, but ever since an NGO initiated an environmentally friendly program in the area, they have altered their thinking. More



Jurnalis Kampung Loncek Mengudara di RRI

Oleh Edi Nawang
Loncek Baguas di RRI//di awal diskusi photo. Laurensius Edi
Banyak cara orang bisa eksis di dunia ini, hal lain yang paling ngetop sekarang ini adalah dunia maya seperti fasilitas-fasilitas di internet, seperti Facebook, Twiter, Youtobe, dsb. Fasilitas canggih ini pun tak kalah pentingnya juga, radio yang dari dulu hingga sekarang eksis dan menjadi pusat informassi bangsa diseluruh dunia. Terobosan suatu komunitas yang hingga saat ini publikasinya sudah menggelegar

Selasa, 11 Februari 2014

Sutradara Amerika ke Loncek

Tarian Topeng//Penyambutan rombongan Kedubes Amerika Photo by.Bosio
Tiada angin,tiada hujan. Rindu akan kehadiran orang ternama di kampung halaman sendiri tentunya menjadi harapan bagi semua orang. Minggu, (9/2) Richard Pearce(Sutradara Film dan Televisi, Sinematografer) dan Freida Mock (Sutradara, Pembuat Film, Penulis Naskah, Produser) dari Amerika datang ke Gunung Loncek, Desa Teluk Bakung, Sungai Ambawang, Kalimantan Barat. Kedatangan ini bertujuan untuk Pelatihan Pembuatan Film Dokumenter.
Richard & Freida//Pelatihan Film Dokumenter Photo by. Bosio
ard Pearce
Warga kampung Loncek pun sangat antusias menyambut kedatangan kedua sutradara itu, bahkan saat mereka datang disambut dengan tarian topeng salah satu ciri khas budaya kampung Loncek yang saat ini sudah hampir

Senin, 10 Februari 2014

Sutradara Peraih Oscar Ajari Warga Loncek Ambawang Buat Film Dokumenter

TRIBUNPONTIANAK - Tulisan para blogger dari Kampung Loncek, Kecamatan Sungai Ambawang, membawa dua sutradara peraih Festival Film Berlin dan Oscar dari Amerika Serikat, tertarik menemui para pemuda dan masyarakat di sana. Itu semua karena tulisan, foto, dan video yang diposting di internet yang dilakukan mereka. Suatu catatan sejarah tak terlupakan, warga Kampung Loncek belajar bikin film dokumenter dari kedua sutradara tersebut.
Kehadiran Rechard Pearce dan Freida Mock, Minggu (9/2/2014) siang, menjadi sangat spesial bagi masyarakat Kampung Loncek. Sebagian masyarakat tak sabar menunggu kemunculan keduanya beserta Asisten Atase Kebudayaan Kedubes Amerika Serikat, Sylvie Young, dan Dekan Administrasi Perfilman, Universitas of Southern School of Cinematic Arts. Kegiatan itu juga bekerjasama dengan Yayasan Pemberdayaan Pefor Nusantara (YPPN). Kedatangan rombongan pekerja film itu, disambut dengan tarian dan tabur beras kuning.
Tribun Pontianak bersama dengan bersama rekan jurnalis lain dari media nasional berbahasa Inggris, Indonesia, dan media cetak lokal, tampak antusias melihat prosesi adat dengan tarian topeng menyertai kedua sutradara tersebut, masuk ke ruang gereja Katolik.

Selama proses ritual penyambutan, dengan handycamnya, Rechard Pearce mendokumentasikan potong bambu sampai iringan tarian. Begitu pula dengan Freida Mock. Lensa handycam di tangan kanannya, merekam ekspresi dan gerak tubuh warga yang menyambut kehadirannya.

Bagi Inisiator Program Loncek, Alexander Asriyadi Mering, kehadiran kedua sutradara itu, ibarat mimpi menjadi kenyataan. Matanya berbinar. "Inilah kekuatan jurnalisme. Siapa sangka kedua sutradara itu bisa ke kampung ini yang dulunya terisolir. Tulisan yang dibuat para blogger kampung di internet menjadi bukti para sutradara handal Amerika Serikat ini," kata Mering.

Alumni peraih beasiswa International Visitor Leadership Program (IVLP) dari Amerika Serikat ini menuturkan, sekarang kampung Loncek mudah diakses, seperti layanan internet. Namun, tantangan pekerjaan rumah ke depan, menurut Mering adalah dengan mengajar muda-mudi belajar bahasa asing. Terutama bahasa Inggris.

"Pe-er saya ke depan ingin melatih mereka dengan bahasa Inggris sederhana. Mereka sudah mampu menulis, mau dengan bahasa Indonesia, yang mau bahasa kampung juga boleh," ujarnya. Mering merupakan manager program pemberdayaan remaja putus sekolah di kampung itu. Dia mengorganisir pemuda-pemudi di sana bisa nulis buku dan bikin bibit karet unggul.

Rechard dan Freida menuturkan senang dengan sambutan tarian warga Kampung Loncek. Mereka senang bisa datang langsung melihat para pemuda putus sekolah yang bisa menulis buku. "Saya terkejut dalam arti senang karena berada di tempat ini. Kami datang ke sini ingin mengajar mereka bikin film lewat smartphone," kata Rechard soerang sutradara, penulis naskah, dan seorang sinematografi ini.

Loncek, menurut Rechard memiliki banyak isu modern terutama terkait pembukaan lahan kelapa sawit oleh korporasi besar dan tekanan pemerintah. Isu-isu itu harus bisa menjadi film dokumenter. "Berita bagus bahwa ada anak muda menulis dan dipublikasi di internet. Sekarang mereka belajar bikin film. Sayang waktu saya bikin film sedikit," tuturnya berharap, anak-anak muda di Kampung Loncek tetap tak kehilangan harapan.

Freida Mock juga mengucapkan kegembiraan bisa berbagi ilmu mengambil teknik film dengan smartphone, kepada para ibu. "Kita ingin memberdayakan para perempuan di sini. Dengan alat sederhana, bisa bikin film dengan mengidentifikasi ide-ide menjadi kenyataan," ucap peraih Oscar 2010 ini.

Bagi Slyvie Young, pembuat film di atas, mau mengajarkan langsung membuat film supaya masyarakat memiliki kesadaran tentang isu sosial di sekitarnya. Sylvie yakin bahwa film memiliki kekuatan penyadaran.

Seorang blogger dan editor buku Loncek Baguas, Laurensius Edi, tak menyangka Rechard Pearce dan Freida Mock datang ke kampungnya. Dengan kedatangan kedua sutradara tersebut ke kampungnya, harapan kawan-kawannya memiliki pengetahuan menulis dan bisa bikin film dokumenter semakin meningkat.

Dengan program menulis, sebagai upaya memberdayakan basis lahan pertanian yang mereka miliki. Sekarang masyarakat Loncek bisa belajar langsung bikin film dengan ahlinya. "Dulu kami tinggal berbulan-bulan di hutan. Sekarang kami tinggal kan hutan dan mulai beroganisasi tidak membalak hutan lagi. Sekarang 20 anggota peserta memiliki setengah hektar pohon karet," ucapnya.

Sumber: http://pontianak.tribunnews.com/2014/02/10/sutradara-peraih-oscar-ajari-warga-loncek-ambawang-buat-film-dokumenter


Minggu, 12 Januari 2014

Konsep MOL ala KTM PPB



Oleh Edi Nawang
MOL//praktik oleh F.Sarjono (Pucuk) KTM PPB Photo.Edi Nawang
Ada tanaman pasti ada pupuk. Beberapa kali terakhir setelah banyak mendapatkan pelatihan,belajar dan diskusi bersama, anggota Kelompok Tani Muda Palambon Pucuk Baguas (KTM PPB) Loncek, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang,Kabupaten Kubu Raya,Kalimantan Barat, mulai menemukan inovasi baru. Mikro Organisme Lokal (MOL) adalah

Kamis, 04 April 2013

Menembus Pemerintahan


Oleh, Edi Nawang
Dalam melakukan aktifitas Kelompok Tani Muda Palambon Pucuk Baguas (KTM PPB) telah memainkan perannya sebagai kelompok tani yang inspiratif dan sejahtera. Seiring dengan perjalanan waktu, beberapa hal dalam hubungan kerjasama sudah mulai terbangun baik formal maupun informal. Dengan kapasitas yang didapat dari beberapa pelatihan yang pernah diikuti, KTM PPB membuktikan bahwa organisasi orang muda putus

Rabu, 20 Februari 2013

Bule’ “mejeng” dengan KTM PPB Loncek


Oleh, Edi Nawang

Makin bingung lagi nih orang-orang dengan Kelompok Tani Muda Palambon Pucuk Baguas. Apalah KTM PPB yang anggotanya sebagian besar tidak dapat mengecap pendidikan tinggi, itupun mereka raih sudah dengan bersusah payah. Namanya juga Orang Muda Putus Sekolah alias OMPS. Sebagian besar mereka hanya duduk empuk dibangku Sekolah Dasar (SD), atau Sekolah Menengah Pertama (SMP), SMA nya mana?
Hahaha itu hanya dalam bayangan kami saja. Itu hanya bisa kami nikmati dalam mimpi.

Frederika menanam karet di lahan KTM PPB
Foto by. A.Mering
Sebenarnya aku mau menunjukkan pada dunia, bahwa OMPS juga bisa melakukan hal yang baik untuk bangsa ini, terutama kampung Loncek yang sekarang sudah terkepung. Dari berbagai ide tergabunglah cita-cita anak muda yang dulunya sering menghabiskan waktu begitu saja. Ide itu terangkum dalam diskusi sesuai dengan apa yang mereka buat sekarang. Terbuktikan anak muda putus sekolah ternyata lebih cerdas dan inspiratif. Sepintas dilihat, apa yang mereka lakukan sekarang, sungguh hal yang luar biasa dengan hadirnya KTM PPB Loncek, memberikan impact kepada ibu-ibu dan bapak—bapak mereka yang sudah membentuk kelompok tani.

Kalau ditanya siapa sich ketu KTM PPB. Ko bisa ya?

Selasa, 12 Februari 2013

Siapa lagi, Tamu KTM PPB?


Oleh, Edi Nawang
Sarjono alias Pucuk memberikan brosur KTM dan Pamplet PNPM-P ke Jaya Ramba. Photo by. Wisnu Pamungkas
BULAN-bulan ini, Kelompok Tani Muda Palambon Pucuk Baguas (KTMPPB) tak henti-hentinya didatangi tamu, baik tamu dalam maupun luar negeri. Selang beberapa minggu kunjungan dalam rangka Media visit Kemitraan. Senin, (11/02) Usai menghadiri acara Borneo Writers Gathering di Hotel Gajahmada Pontianak, 4 sastrawan sekaligus tamu Alexander Mering dari Malaysia berkunjung ke Loncek, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya. Diantaranya

Yang Bergulat di Tanah Borneo

Photo Silvia Galikano
Masyarakat Dayak yang bertato, tidak berbaju, dan hidup tenang di hutan dari hasil berburu sudah nyaris tidak ada.  Hutan sudah berkurang sangat banyak. Dari 53,7 juta hektare luas Kalimantan tinggal 40,8 juta hektare yang jadi hutan di seluruh provinsi di Kalimantan. Sedangkan hampir 3,2 juta hektarenya jadi kebun sawit.


Di Kalbar, sawit mulai ditanam secara massal pada 1982 dan sekarang kebun sawit yang sudah beroperasi sudah memakan 900.000 hektare sedangkan lahan untuk tambang 1,5 juta hektare dari luas Kalbar yang 14,7 juta hektare. Jangan lega dulu dengan selisih angka yang besar itu, karena kabar buruknya perusahaan sawit dan pertambangan sudah melahap habis perizinan di Kalbar, kecuali untuk hutan lindung dan taman nasional yang memang tidak dapat diutak-atik. Membaca cerita selanjutnya silahkan klik disini

Senin, 04 Februari 2013

Tradisi dari kampung Loncek di KOMPAS.com

oleh, Edi Nawang
Ketika mendengar kata Loncek, orang-orang pasti bingung dan mencari-cari arti kata itu. Begitulah Loncek nama kampung di pelosok negeri Indonesia tersebut. Tetapi kampung itu mempunyai keunikan tersendiri,

Media Visit Kemitraan ke kampung Loncek


Oleh, Edi Nawang

Kampung Loncek, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, rasanya sudah tidak asing lagi untuk didengar. Dari hari ke hari KTM PPB yang menjadi icon dikampung itu terus menunjukan tajinya sebagai kelompok yang cerdas, inspiratif, dan sejahtera.
Oktober 2011 lalu, sekelompok anak muda putus sekolah dikampung Loncek mengorganisasi diri difasilitasi YPPN kerjasama dengan Kemitraan melalui program PNPM Peduli. Organisasi ini memberikan impact bagi ibu-ibu mereka Kelompok Tani Burukng Arue (KTBA) dan bapak-bapak Kelompok Tani Sabaya Mao’ (KTSM) yang tanpa disadari orang tua belajar kepada anak-anaknya. Dalam hal ini, peran serta KTM PPB dikampung Loncek tidak dapat dipandang sebelah mata. Mulai dari teknik okulasi, hingga publikasi mereka dibeberapa media nasional dan internasional.
Selasa,(29/01) Media visit yakni Jan Prince Permata (Jurnas), Suhartono (Kompas), Silvia (majalah Detik), dan Marta (Tempo) bersama Ade Siti Barokah manager Kemitraan dan beberapa tim dari YPPN berkunjung ke Loncek. Mereka bukan hanya berkunjung semata, melainkan melakukan diskusi dengan KTM PPB, KTBA, dan KTSM di Pondok KTM yang berlokasi dilahan 13 milik Leonardus Pembina yang juga mantan ketua KTM PPB. Berita Loncek buka disini dan trailernya  klik di link ini

Rabu, 30 Januari 2013

Jangan Tidur Siang Kalau Singgah di Dusun Loncek

 KUBU RAYA, KOMPAS.com -- Herman (25), warga Dusun V, Gunung Loncek, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, meminta agar siapapun yang datang untuk pertama kalinya ke dusunnya jangan sampai tidur di siang hari barang sekejap pun.
"Kalau sampai tertidur, muka akan bengkak-bengkak," jelas Herman kepada Kompas di Dusun Gunung Loncek, Rabu (30/1/2013).
Ditanya mengenai apa hubungannya muka bengkak dengan larangan tidur siang di kawasan dusunnya, Herman tak bisa merinci. "Aturannya dari dulu begitu di Dusun Gunung Locek," katanya.
Menurut Program Manager Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Peduli Yayasan Pemberdayaan Pefor Nusantara A Alexander Mering, larangan tidur siang berlaku tiga hari pertama kunjungan pendatang di dusun masyarakat dayak Selako, yang dikenal juga dengan dayak Kanayat. Membaca selengkapnya silahkan klik disini

Selasa, 18 Desember 2012

PNPM-MP Landak Gelar pelatihan Wartawan Kampung

Foto bersama saat pembukan pelatihan jurnalisme kampung

diposkan : Edi Nawang
Sekarang adalah abad informasi, karena itu peran media sangat penting, untuk pemberdayaan masyarakat, termasuk untuk pengembangan media di Kabupaten Landak.

Demikian diungkapkan oleh Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPMPD) Kabupaten Landak, yang diwakili oleh Nikolaus, SH, saat membuka Pelatihan Wartawan Kampung Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan (PNPM-MP) di Ngabang, Senin (18/12).

"Karena itu sudah saatnya pengalaman, wawasan dan pengetahuan wartawan desa ditingkatkan," kata Niko.
Kegiatan ini merupakan salah satu Ruang Belajar Masyarakat (RBM) pada program PNPM-MP, kabupaten Landak, tahun anggaran 2012.

Sementara itu Fasilitator PNPM-MP Kabupaten (Faskab) Landak, Yanuardi, ST, mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas para pelaku PNPM-MP di tingkat basis serta masyarakat yang peduli pada program ini. "Kami berharap,

Senin, 19 November 2012

Mahasiswa STP "Dihukum Adat" Oleh Warga Loncek


Oleh: Edi Nawang

Mahasiswa STP dan KTM PPB usai melakukan
penanaman bibit karet tegakan batang bawah
Setiap tamu yang berkunjung ke lahan KTM PPB (Kelompok Tani Muda Palambon Pucuk Baguas) pasti dihukum adat. Minggu (18/11/2012), penanaman bibit tegakan karet kembali dilakukan oleh 25 mahasiswa Sekolah Tinggi Pastoral (STP) Santo Agustinus, Pontianak. Mereka berasal dari berbagai kabupaten di Kalimantan Barat. Kedatangan mereka ke Kampung Loncek, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sei. Ambawang, Kab. Kubu Raya bermaksud menyaksikan sendiri gerakan basis para pemuda di kampung Loncek.

Mahasiswa STP didemplot karet yang sudah diokulasi
Sudah banyak orang dihukum adat

Rabu, 14 November 2012

PT Bintang Asia menawarkan kerjasama ke KTM PPB


Oleh : Edi Nawang

Prima Hadi Sulistio saat berdiskusi dengan Edi YPPN Pontianak
Kelompok Tani Muda Palambon Pucuk Baguas KTM PPB mendapat tawaran kerjasama dari PT Bintang Asia, Jember Jawa Timur- Indonesia dalam bentuk benih unggul tanaman sayuran. Prima Hadi Sulistio Marketing Executive PT Bintang Asia didampingi Heri dari Dinas Pertanian Kabupaten Kubu Raya dalam pertemuan singkat dengan Laurensius Edi dan Viktorinus Bosio Fasilitator YPPN bekerjasama dengan Kemitraan Indonesia dalam Program PNPM Peduli, dalam pertemuan pada sore 14 November 2012 di Warung Somay Bandung Jl. Patimura Pontianak depan Polda Lama, mencatatkan bahwa

Minggu, 11 November 2012

Dari kampung, oleh kampung, dan untuk kampung.



Oleh: Edi Nawang

Sarjono KTM PPB dkk saat wawancarai narasumber Gaep (Pak Gampur)
Hutan semakin habis terbabat, tanah sudah terkapling-kapling dijadikan perkebunan kelapa sawit. Situs sejarah kampung Loncek sedikit-demi sedikit menghilang. Hal ini lah yang membuat orang muda putus sekolah untuk menulis dan memetakan tempat-tempat keramat mereka yang saat ini hampir hilang. Gerakan pantak modern melalui tulisan dan buku kampung yang mereka buat adalah untuk menyelamatkan situs sejarah kampung mereka sebelum semuanya selesai. Kelompok Tani Muda Palambon Pucuk Baguas (KTM PPB) menyikapinya dengan cara cerdas.

Jumat, 09 November 2012

Kades Teluk Bakung pun Ikut KTM Tanam Karet

Macam-macam saja cara anggota Kelompok Tani Muda Palambon Pucuk Baguas (KTM PPB)  menarik perhatian masyarakat dan pemangku kepentingan. 
Tak terkecuali Valentinus Agip, S.Sos, Kepala Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat.
Tak kurang dari 120 warga hadir saat penanaman karet tersebut, di lokasi pembibitan KTM PPB, Jumat (9/11) 2012. Sebagian besar  yang hadir tersebut adalah para petani perempuan yang tergabung dalam Kelompok Tani Burung Arue (KTBA) dan Kelompok tani bapak-bapak yang menamakan diri Kelompok Tani Sabaya Mao' (KTSM). 
Tak cuma Kades, Kepala Dusun Kampung Loncek, Dino juga ikut menanam karet di lokasi yang sudah ditentukan.
Menurut Sarjono, Ketua KTM PPB, kegiatan tersebut adalah salah satu cara kreatif KTM PPB dalam membudidayakan karet unggul di kampungnya. 
"Karet yang sudah ditanam Kades akan diberikan nama unik L-Agip-IRR 39," kata Sarjono. Diabadikannya nama Kades Loncek untuk nama karet ini, kata dia sebagai salah satu cara kreatif yang membuat bibit karet produk KTM tidak bisa dipalsukan. Begitu juga dengan karet yang ditanam oleh pak Kadus.
Seremoni menanam karet bersama ini, adalah rangkaian dari acara pembukaan pelatihan Jurnalisme Kampung, yang menjadi bagian dari aktivitas program PNPM Peduli di Kampung Loncek.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Hosting Coupons